Sore itu saya nekat, berpikir cepat. Posisi saya masih di Laos, lantas mau balik ke Thailand atau lanjut ke Vietnam. Setelah mendapat wejangan dari ibu-ibu penghuni dormitory yang tidur di ranjang sebelah, saya memutuskan untuk pergi ke vietnam. Ibu yang berasal dari Jepang itu memberikan banyak informasi kepada saya, tentang tempat menginap di Vietnam dan sebagainya.
Saya menyewa tuk-tuk untuk mengantar ke terminal bis Vientiane. Awalnya saya membeli tiket menuju Hanoi, tapi saya pikir-pikir lagi, ah saya berubah pikiran. Akhirnya Tiket ditukarkan, saya beli yang menuju Hue. Hue adalah kota budaya yang terletak di selatan Hanoi, jaraknya pun lebih dekat dengan Vientiane.
sleeper bus
Bus AC sleeper berjalan pelan selepas Mahrib. Saya adalah satu-satunya orang asing di bus itu. Biasanya wisatawan lebih senang menggunakan bus yang disediakan travel. Tapi saya dengan bodohnya menggunakan bus yang ditumpangi orang-orang lokal.
Setelah hampir 12 jam berkendara, perjalanan ini melewati pedesaan yang sepi. Pagi menjelang saat tiba di perbatasan. Semua paspor milik penumpang lain sudah dititipkan kepada supir yang merangkap sebagai calo. namun, karena tertidur pulas, paspor saya masih saya pegang.
Perbatasan ini sungguh berbeda dengan perbatasan Thailand-Laos. Daerah ini mirip kampung halaman saya. ada deretan pegunungan berjejer, begitu rindang. Akhirnya seorang calo datang menghampiri saya dengan sepeda motor, dia mengantarkan saya untuk pergi ke gerbang perbatasan. Bus yang saya tumpangi masih berhenti di warung sebelum perbatasan.
Perbatasan Lao Bao Savanaket ini begitu sepi, hanya ada bangunan sebesar pos hansip. Akhirnya saya mendapatkan stempel itu. Stempel untuk memasuki Vietnam. Karena saya berasal dari Indonesia, saya bisa masuk Vietnam tanpa Visa. Setelah itu, si calo mengantarkan saya kembali ke warung tempat bus berhenti.
Beberapa saat kemudian, bus melanjutkan perjalanan untuk memasuki gerbang Vietnam. semua penumpang diharuskan turun. Kali ini yang saya lihat sungguh tampak menakutkan. Perbatasan yang mirip pangkalan militer, dengan dijaga banyak prajurit. Saya yang ketahuan memotret sempat diingatkan oleh tentara Vietnam itu.
Beberapa orang menyelipkan uang di dalam paspornya. Kondisi ekonomi di Laos dan Vietnam memang berbeda. Daerah itu juga merupakan daerah yang rawan penyelundupan obat-obatan terlarang. setelah melihat paspor Indonesia saya, petugas imigrasi itu cukup kaget. Mungkin dia kira, saya juga orang laos.
perbatasan Laos Vietnam
Hanya dua jam perjalanan dari perbatasan, sampailah saya di Hue. Kota besar yang sejuk dan lembab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar